Serangan udara Amerika Serikat yang menewaskan jenderal top Iran Qasem Soleimani memicu panasnya hubungan kedua negara.
Selain Qasem, serangan yang dilakukan pada Jumat (3/1/2020) di Bandara Internasional Baghdad itu juga menewaskan Abu Mahdi al-Muhandis, pemimpin Hashd al-Shaabi di Irak.
Serangan itu dilancarkan atas perintah Presiden AS Donald Trump.
Sejumlah pihak memuji langkah Trump karena Qasem dianggap bertanggung jawab atas terbunuhnya warga AS di Timur Tengah.
Namun, tak sedikit pula yang mengutuk langkah itu karena akan memperburuk situasi di Timur Tengah saat ini.
Iran tak tinggal diam dan menyatakan akan membalas dendam kematian Qasem.
Hal itu dibuktikan melalui serangan rudal yang dilancarkan ke Pangkalan Militer AS di Irak pada Rabu (8/1/2020).
Mengapa AS nekat memicu pertikaian dengan langsung menarget Jenderal Qasem Soleimani?
Baca juga: Markas Militer AS Dihantam Rudal, Iran Simpan Cadangan Minyak Ratusan Miliar Barel
Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Siti Mutiah Setiawati menganggap langkah Trump tersebut sebagai upayanya untuk meninggalkan "warisan" menjelang akhir kepemimpinannya.
"Sekarang, Trump itu kan sudah mau habis waktunya. Terus apa peninggalannya? Jadi, sebelum melepas jabatan itu, Trump ingin meninggalkan legacy agar diingat publik," kata Mutiah, yang biasa disapa Titik, kepada Kompas.com, Kamis (9/1/2020).
Menurut dia, kecenderungan politik luar negeri AS di Timur Tengah, presiden selalu meninggalkan "warisan".
SUMBER : KOMPAS.COM
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus